Oleh : Tri H. Sumani
Memberikan keterangan pada setiap bio medsos (media sosial) adalah hal yang lumrah dilakukan oleh setiap orang, untuk menjelaskan kondisi perasaan, pikiran atau-pun keadaan yang sedang dialaminya dan sebagainya.
Namun, malam ini sedikit berbeda. Setelah melewati ketegangan berpikir antara mempertahankan keutuhan persahabatan atau harus terasing demi melunasi janji-janji pada sebagian orang. Saya teringat pada pernyataan sederhana di bio atau pun kolom info akun WatsApp seorang kawan. Disana ia menulis "Bukan siapa-siapa". Awalnya kita bersama-sama menertawakan pernyataan itu, sebab tiga uraian kata itu terkesan pasrah dan tak memiliki nilai apapun. Akan tetapi setelah saya mencoba menarik kesesuaian pada kebimbangan yang saat ini sedang merepotkan perasaan dan pikiran saya.
Akhirnya saya menyadari dan membenarkan, bahwa kita memanglah bukan siapa-siapa, melainkan apa.
Yah, seperti pernyataan pada paragraf sebelumnya. Kita memanglah bukan siapa-siapa. Segala bentuk tindakan serta perbuatan kita semestinya lahir bukan untuk menjawab pertanyaan terkait "Siapa?", melainkan "Apa?". Lebih tepatnya mungkin tentang apa yang telah kita perbuat. Sebab berbuat untuk memposisikan diri sebagai siapa, tak lain hanya sebuah bentuk keakuan yang lahir karena dorongan untuk mendapatkan pengakuan.
Pada akhirnya saya pun bersepakat bahwa barangkali saya musti sering-sering menuliskan disetiap bio medsos (media sosial) saya dengan kalimat yang sama. Yakni, "Bukan siapa-siapa". Mungkin dengan begitu, disetiap pernyataan apa pun itu di medsos (media sosial), saya akan terus diingatkan dan perlahan-lahan terus menyadari bahwa pada kesejatiannya, setiap tindakan bukanlah soal siapa, melainkan apa.
Maka sejak saat ini juga, saya "Bukan siapa-siapa".
#lestarikankewarasan #lestarikancinta

Tidak ada komentar:
Posting Komentar