Aku tak tahu harus menulisnya dari mana. Sumpah mampus, ini tak pernah kurencanakan sebelumnya. Aneh rasanya tatkala kau muncul sebagai list satu-satunya dalam pencarianku. Kau bukan tipikal yang kuingini. Semisal; aku lebih suka yang sedikit cerewet, sementara kau tawarkan diam. Mungkin jika kita terjebak dalam ruangan yang sama, semuanya akan membeku.
Aku tahu kau bukan orang yang inginkan validasi berlebih, kau melewati harimu sesederhana mungkin, kau tunduk pada aturan-aturan yang jika itu terjadi padaku, sudah pasti pemberontakan jadinya.
Kau tahu, perasaan ini sedikit rumit. Aku tak punya solusi agar semua ini mereda. Tak ada jalan. Hanya kebuntuan tatkala hendak mengutarakan semuanya. Siapa aku? Begitupun dengan kau. Mungkin kita akan dengan pertanyaan yang sama. Masa iya? Akh, betapa aku tak punyai daya upaya dalam keterjebakan ini.
Aneh rasanya perasaan ini bisa tumbuh semaunya. Mati-matian kutemukan alasan untuk menyatakan bahwa ini semua kebohongan semata. Tapi semakin ku berusaha, semakin aku terjebak di dalamnya.
Terakhir, maaf akhir-akhir ini aku sering berselancar ke beranda media sosialmu, berharap menemukan sesuatu sebagai alasan agar kita dapat bicara.