Benar kata orang. Semakin dewasa, kita justru semakin rumit memahami berbagai hal. Kita berjalanan pada rel masing-masing, tak saling curi pandang apalagi merayu. Tapi perlahan tertawan tanpa ampun. Aku bahkan sekilas lupa bagaimana saat pertama kita jumpa, tak ada bicara, setiap dari kita (kau dan aku) sibuk pada tanggungjawab masing-masing.
Disebuah pagelaran yang sederhana. Sungguh, aku tak pernah menyangka itu akan menjadi perkara perasaan dikemudian hari. Kita benar-benar tak saling kenal sebelumnya. Hanya sebuah pertemanan tanpa arah di Instagram. Celakanya, aku tak pernah menyadari, bahwa menunggu Story-mu akan menjadi pertaruhan perasaanku di hari ini.
![]() |
Aku selalu gagal menemukan momen yang tepat untuk berbagi pesan. Tapi tidak dengan malam itu, rasa penasaran telah menjelma ketertarikan yang niscaya akan membunuhku jika tak secepatnya kuutarakan. Aku tertarik padamu, cinta padamu atau apalah itu bahasa yang tepat untuk mengungkapkan ketidakberdayaan ini. Dan kau, seperti perkiraannku. Kau tidak pernah menyangka jika semua terjadi secepat kilat, mungkin kau belum bersiap diri dengan jawaban-jawabanmu. Itu wajar, sebab pasti kau mengira aku hanya sedang bermain-main. Namun nyatanya kau keliru, aku benar-benar jatuh hati padamu.
Dihadapanmu, aku tak ingin terkesan memaksa, sebab cinta seharusnya memerdekakan yang dicintai. Maka dengan penuh sadar, aku memilih mencintaimu dengan sangat sederhana, dengan bahasa yang bahkan tak membuatmu terkesima. Aku ingin bicara dengan bahasa kejujuran, agar sekalipun tak berjawab, aku tetap menjadi pengagummu.
