Postingan Populer

Sabtu, 05 Juni 2021

MANUSIA MEDSOS (Ideologi Bangsa dalam Degradasi?)


Oleh : Tri H. Sumani


Tak mengapa jika terlambat. Tulisan ini bukan untuk kau renungkan, membenarkan atau juga mencari-cari kesalahan pada setiap rentetan kalimatnya (pembenaran). Sebab kau tak perlu tersinggung, tersungging atau apapun itu untuk hal-hal yang tak pernah ditujukan padamu. Tetaplah waras kawan.


Baiklah, kita coba. 01 Juni kemarin, seperti halnya yang telah tercantum pada kalender rumahmu, kantormu, kostmu, WC-mu atau apapun itu yang tak lagi dapat kau sangkalkan. 01 Juni telah dinyatakan sebagai Hari Lahirnya Pancasila. Yah Pancasila, yang semenjak saat itu menjadi landasan berbangsa dan bernegara, tentunya dalam lingkup negara Indonesia. 


Tak usah berbelit-belit lagi. Sederhana saja, sebab ini bukan karya ilmiah yang mesti menuruti berbagai aturan-aturan kepenulisan. Ini lebih pada pemanfaatan media sosial yang entah mengapa terlalu menarik untuk dijadikan wadah untuk saling berbagi informasi, kegilaan dan sebagainya. 



Begitulah adanya kondisi bermasyarakat hari ini. Ketidakmampuan menahan diri dari berbagai godaan modernisasi telah menawan nilai-nilai luhur kita dalam sifat individual yang sangat kuat. Sifat cuek dan tak mahu tahu hari ini telah mengakar kuat. Sementara keterpurukan aktualisasi Pancasila dalam tindakan berbangsa dan bernegara pun semakin merosot jauh bak sumur tak berdasar. Etika juga moral kita selaku manusia modern hari ini mengalami degradasi yang sangat parah.


Manusia-manusia medsos (media sosial) seperti kita adalah orang-orang gila yang menganggap tindakannya terpuji dan terus menerus mengulanginya tanpa henti. Kita adalah orang-orang yang terbiasa mengabadikan kebaikan di mata manusia. 


Mengutip bait puisi D'Facto ; "Berpakaian sesama manusia, tapi telanjang dimata Tuhan". Jauh dari niat memberi contoh, kita malah terjebak pada persoalan mencari eksistensi semata. 


"Tangan kanan memberi, tangan kiri selfi". Yah, kalimat sentilan ini memang sangatlah teramat pantas bagi kita yang mengaku masih tetap utuh sebagai manusia. Ha ha ha, ini pun bagian koreksi bagi diri saya selaku penulis. Tapi begitulah budaya baru yang telah kita bangun. Entah lahir atas ideologi semacam apa, jelasnya tindakan kita hari ini sudah teramat jauh dari tindakan seorang Pancasilais.


Dari berbagai degradasi moral dalam bernegara yang terjadi hari ini, usaha apa pun nampaknya akan sia-sia jika itu bukan lahir dari kesadaran kita bersama. Namun itu bukan alasan untuk berdiam diri dalam keterpurukan. Kita harus menyadari bahwa sebelum lahirnya Pancasila, nilai-nilai luhur yang ada didalamnya telah lama menjadi identitas kemuliaan manusia sebagai makhluk yang memiliki akal pikir.


Sekali lagi, tulisan ini sebatas refleksi penulis atas diri sendiri dan untuk siapapun yang terjebak pada persoalan yang sama. 


Meski terlambat, SELAMAT HARI LAHIR PANCASILA.


#lestarikankewarasan #lestarikancinta

2 komentar:

ghufran lasinta mengatakan...


ditunggu tulisan selanjutnya

Gie Sastra mengatakan...

Okey