Maafkan aku. Tapi memahami cinta memang tak semudah aku mengucapkannya. Meski puisi-puisiku begitu romantis dimata orang-orang, tapi tentu kau lebih tahu bahwa aku selalu gagal memaknainya.
Aku lelaki sunyi dalam pencarian cinta. Hingga pada waktu yang dijanjikan, kau datang tawarkan sebongkah hatimu yang tulus untuk kucabik-cabik haru. Maafkan aku.
Bertahun-tahun berlalu. Tapi aku masih saja gagal memahamimu, bukan kamu yang salah atau juga aku yang keliru. Barangkali beginilah adanya takdir yang disematkan pada kebersamaan kita.
Jika kelak hatimu semakin gusar dengan pertanyaan-pertanyaan perihal kejelasan cintaku, maka pulanglah pada kedalaman hatimu. Apa yang akan kau temui, itulah yang harus kau lakukan. Sekalipun itu tentang harus mengakhiri kisah denganku.
Berhari-hari airmatamu masih basah, tak ada jemariku disana. Bahkan ia semakin menderas karena aku. Tak ada yang berlebihan, ini benar adanya. Tapi begitu tabahnya engkau, berpaling saja enggan kau lakukan, meski jelas lukamu kian menganga bersamaku. Maafkan aku.