Postingan Populer

Selasa, 15 Juni 2021

PERAN PEMUDA DAN RELEVANSINYA DALAM MENDORONG INDONESIA YANG BERKEMAJUAN DI TENGAH PERSAINGAN GLOBAL

 

Oleh : Tri Sugianto H. Sumani

 

            Pemuda sebagaimana yang telah kita ketahui, sangatlah memiliki peranan penting bagi tumbuh dan berkembangnya sebuah negara dimasa yang akan datang. Di pundak para pemudalah cita-cita dan harapan bangsa diletakkan.

            Ditengah gencarnya persaingan di era globalisasi, baik dalam hal keilmuan ataupun teknologi, ternyata tidak selalu berdampak positif bagi kaum muda yang mana dalam masa pertumbuhannya, seorang pemuda terkesan sangatlah mudah penasaran dan tertantang atas berbagai perkembangan teknologi yang masuk dengan cepat dan kerap menyajikan berbagai budaya-budaya baru yang ternyata dapat merusak mental berpikir juga sikap seorang pemuda jika tidak ditanggapinya dengan bijaksana. Seharusnya, dengan usia yang masih muda serta tenaga yang cukup kuat, pemuda diharapkan dapat menjadi ladang intelektual yang sekiranya dapat melahirkan berbagai inofativ serta kreaktivitas. Namun alangkah malangnya, bahkan mungkin sebagian orang telah menganggap sebagai kemustahilan jika kemajuan serta kesejahteraan negara disandarkan pada kaum muda. Hal ini bukan tanpa sebab, melihat kondisi hari ini dengan berbagai tawaran kehidupan yang begitu kompleks, sehingganya mendorong perubahan sikap dari kaum muda yang seharusnya memegang teguh sifat gotong royong sebagai sebuah identitas dari berangkatnya persatuan dan kesatuan yang dahulu kala dipegang teguh oleh kaum muda.




            Berbagai perspektif diatas adalah gambaran dari akar dan bakal tumbuhnya sikap-sikap apatis dalam tubuh setiap pemuda. Bahkan lebih berbahayanya lagi pemuda yang seharusnya menjadi lokomotif atau penggerak bagi perubahan kehidupan bangsa dan negara, hari ini malah sangat nyata mengkonsumsi berbagai gaya hidup kaum-kaum kapitalis dan itu adalah hasil dari dampak lingkungan sosial politik di negara ini yang terkesan praktis, atau dalam hal ini lebih sering dikenal dengan Money Politic (politik uang).

            Lahirnya perspektif diatas merupakan bagian dari gagalnya negara dalam menyajikan pendidikan politik kepada masyarakat secara umum dan pemuda secara khusus. Ketidakmampuan negara dalam mengakomodir gaya berpolitik bahkan gaya hidup yang masuk dari pintu-pintu modernisasi adalah jalan menuju gagalnya kaum muda dikemudian hari untuk mewujudkan cita-cita perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia yakni mencerdaskan kehidupan bangsa dan negara.

            Perubahan sikap yang terkesan apatis dari pemuda juga akan menyebabkan lahirnya sifat-sifat individual yang akan berdampak pada masa depan negara jika kemudian mereka nantinya menjadi pemimpin, karena pemuda yang tumbuh dengan sifat individual hanya akan memperkaya dirinya sendiri jika dikemudian menduduki jabatan penting dalam sebuah sistem pemerintahan negeri ini. Ini adalah bagian dari merosotnya moral yang berdampak pada ketidakmampuan kaum muda dalam memanfaatkan SDM (Sumber Daya Manusia) yang dimilikinya dan pastinya hal ini akan berdampak pula pada ketidakmampuan mengelola Sumber Daya Alam yang ada. 

            Oleh karena itu sudah sepantasnya jika para pemuda mendapatkan perhatian lebih dari negara, dalam hal ini negara harus dapat menyediakan berbagai fasilitas yang bertujuan untuk mengembangkan keahlian para pemuda dan juga negara diharapkan dapat membuka ruang untuk menampung berbagai ide-ide serta kekayaan intelektual yang dimiliki oleh para pemuda, dalam hal ini semisal dalam bentuk sikap apresiasi, sehingganya para pemuda tetap senantiasa melakukan hal-hal yang sifatnya produktif. Juga diharapkan negara dapat memberikan pendidikan sosial politik yang baik terhadap para pemuda, mungkin dalam hal ini partai politik harus mengambil peran, karena mengingat salah satu fungsi partai politik adalah memberikan pendidikan politik yang baik kepada masyarakat.

            Sehingganya jika negara mampu mengakomodir segala kemungkinan atas rusaknya moral pemuda, maka dapat dipastikan bahwa para pemuda dikemudian hari akan lebih siap dalam menjalankan perannya demi tercapainya kemajuan serta kesejahteraan Indonesia meski diperhadapkan dengan perkembangan globalisasi yang begitu kuat. Dengan begitu dapat dipastikan bahwa dimasa yang akan datang, Indonesia akan lebih mampu bersaing dengan negara lain.

Minggu, 06 Juni 2021

Perihal BIO Seorang Kawan (Bukan siapa-siapa)

Oleh : Tri H. Sumani


Memberikan keterangan pada setiap bio medsos (media sosial) adalah hal yang lumrah dilakukan oleh setiap orang, untuk menjelaskan kondisi perasaan, pikiran atau-pun keadaan yang sedang dialaminya dan sebagainya.


Namun, malam ini sedikit berbeda. Setelah melewati ketegangan berpikir antara mempertahankan keutuhan persahabatan atau harus terasing demi melunasi janji-janji pada sebagian orang. Saya teringat pada pernyataan sederhana di bio atau pun kolom info akun WatsApp seorang kawan. Disana ia menulis "Bukan siapa-siapa". Awalnya kita bersama-sama menertawakan pernyataan itu, sebab tiga uraian kata itu terkesan pasrah dan tak memiliki nilai apapun. Akan tetapi setelah saya mencoba menarik kesesuaian pada kebimbangan yang saat ini sedang merepotkan perasaan dan pikiran saya.


Akhirnya saya menyadari dan membenarkan, bahwa kita memanglah bukan siapa-siapa, melainkan apa. 

Yah, seperti pernyataan pada paragraf sebelumnya. Kita memanglah bukan siapa-siapa. Segala bentuk tindakan serta perbuatan kita semestinya lahir bukan untuk menjawab pertanyaan terkait "Siapa?", melainkan "Apa?". Lebih tepatnya mungkin tentang apa yang telah kita perbuat. Sebab berbuat untuk memposisikan diri sebagai siapa, tak lain hanya sebuah bentuk keakuan yang lahir karena dorongan untuk mendapatkan pengakuan.


Pada akhirnya saya pun bersepakat bahwa barangkali saya musti sering-sering menuliskan disetiap bio medsos (media sosial) saya dengan kalimat yang sama. Yakni, "Bukan siapa-siapa". Mungkin dengan begitu, disetiap pernyataan apa pun itu di medsos (media sosial), saya akan terus diingatkan dan perlahan-lahan terus menyadari bahwa pada kesejatiannya, setiap tindakan bukanlah soal siapa, melainkan apa. 


Maka sejak saat ini juga, saya "Bukan siapa-siapa". 


#lestarikankewarasan #lestarikancinta

Sabtu, 05 Juni 2021

Teruntuk Sahabatku Yang Dipenjarai akal



Oleh : Tri H. Sumani


Tulisan ini sengaja ku tujukan untukmu, yah untukmu saja. Mungkin kau adalah salah seorang yang kiranya telah menyatukan paham dan rasa denganku. Maka izinkan aku menegurmu, karena bagiku itu ialah kewajibanku sebagai orang yang pastinya masih kau pandang sayang.


Bacalah...

Tahun-tahun kemarin telah kita benamkan segala sesal dalam-dalam, melakukan ritual penyerahan sepenuhnya tanpa melupakan tugas lainnya yaitu berusaha. Seharusnya kau dapat pahami itu, karena akupun percaya bahwa kau telah paham. 


Semestinya kau kembali merefleksi setiap janji terhadap dirimu sendiri, adakah yang telah kau ingkari hari ini sehingganya amarah tak dapat kau kendalikan lagi? 

Semestinya kau kembali mewaraskan diri, bahwa nahkoda terbaik ialah hati yang bersih dengan tidak  mencemarinya dengan berbagai tingkah yang telah lewati batas.


"Ingat, Jangan lupa jalan pulang". Seharusnya kau tahu makna dari kata itu dan senantiasa memberikan ruang bagi hati untuk terus terpatri pada yang satu.


Segala yang terjadi telah menjadi ketetapannya, tugasmu adalah membaca apa SEBAB sehingga muncul AKIBAT.


Cobalah lebih dalam lagi arungi malam, jangan berhenti sebelum bias fajar nampak dipelupuk matamu. Jauhkan dirimu dari segala tipu daya akal yang mungkin juga telah menjadi istana bagi iblis untuk bertahkta.


Kiranya cukup itu untukmu, aku tahu yang kau hadapi cukup berat dimatamu. Namun tidak jika senantiasa kau tetapkan pada-NYA yang merupakan penentu segala asal muasal.


Ini adalah bentuk sayangku untukmu, bentuk sayang seorang sahabat, bentuk sayang seorang saudara, bentuk sayang seorang manusia atas manusia lainnya.


Tak perlu kusebut namamu, karena jika pesan ini sampai pada berandamu maka kau akan menyadari bahwa pesan ini untukmu.


#lestarikankewarasan #lestarikancinta

Mengenal Kemanusiaan dan Hal-hal Yang Berpotensi Meniadakannya Dalam Diri Kita.


Oleh : Tri H. Sumani


Barangkali siapa pun akan bersepakat bahwa kemanusiaan adalah bagian dari sifat kodrati manusia, artinya telah melekat  semenjak kita lahir. Meskipun tiada dapat dipungkiri bahwa beberapa pandangan para ahli menyatakan bahwa awal munculnya kemanusiaan berasal dari peradaban Yunani dan Romawi kuno yang kemudian meyakini bahwa suatu saat nanti akan lahir kemanusiaan universal.


Dalam perjalanan peradaban manusia, gerakan-gerakan kemanusiaan tiada pernah lepas sepanjang sejarah. Karena disetiap adanya penindasan dan berbagai macam kesenjangan yang tak lagi sesuai dengan keteraturan hidup manusia, gerakan kemanusiaan selalu saja muncul sebagai penyeimbang agar keteraturan tetap terjaga. Semakin banyak bencana juga tragedi kemanusiaan yang terjadi, maka semakin banyak pula gerakan-gerakan kemanusiaan yang bermunculan ke permukaan.

Pada kesejatiannya seperti apa yang telah saya nyatakan dalam paragraf pertama bahwa kemanusiaan adalah sesuatu yang bersifat kodrati dalam diri manusia, sehingganya setiap individu tidaklah dapat mengelak bahwa disetiap kali ia melihat ketertindasan, saat itu pula rasa kemanusiaannya selalu bergetar untuk berbuat sesuatu yang dapat bermanfaat bagi mereka yang menjadi objek ketertindasaan atau pun korban dalam sebuah bencana.


Namun dengan berbagai penjelasan di atas, kita tak bisa memandang remeh terkait kemanusiaan, walaupun ia bersifat kodrati namun acapkali kita menjadi sangatlah kaku dalam menanggapi berbagai persoalan yang menuntut keterpanggilan kita atas sesama manusia. Pada dasarnya gerakan kemanusiaan lahir dengan adanya pandangan bahwa semua manusia adalah sama. Seperti halnya gagasan besar yang dilahirkan oleh seorang Mahatma Gandhi yang secara tidak langsung menyatakan bahwa "Semua Manusia Bersaudara".


Ketidakpekaan terhadap suara-suara kemanusiaan sebenarnya muncul karena adanya ego kelompok ataupun individu dalam mencapai kepentingan tertentu sehingganya mewajarkan perbuatan yang melanggar hak-hak orang lain. Semisal sebelum muncul kemanusiaan unviersal, dahulu setiap kelompok suku ataupun kelompok yang lahir atas kesamaan Tanah juga Darah memandang bahwa kelompok merekalah yang paling mulia ataupun yang pantas disebut manusia dan kelompok diluar mereka dianggap liar dan  terbelakang, sehingganya tak pantas disebut manusia. Nah paham-paham seperti inilah yang seharusnya dapat kita hindari karena secara perlahan akan memenjarai bahkan berpotensi membunuh rasa kemanusiaan kita.


Akhir kata tetaplah menjadi manusia yang tetap menjaga setiap nilai-nilai luhur untuk mencapai kebermanfaatan hidup atas sesama.


#lestarikankewarasan #lestarikancinta

MANUSIA MEDSOS (Ideologi Bangsa dalam Degradasi?)


Oleh : Tri H. Sumani


Tak mengapa jika terlambat. Tulisan ini bukan untuk kau renungkan, membenarkan atau juga mencari-cari kesalahan pada setiap rentetan kalimatnya (pembenaran). Sebab kau tak perlu tersinggung, tersungging atau apapun itu untuk hal-hal yang tak pernah ditujukan padamu. Tetaplah waras kawan.


Baiklah, kita coba. 01 Juni kemarin, seperti halnya yang telah tercantum pada kalender rumahmu, kantormu, kostmu, WC-mu atau apapun itu yang tak lagi dapat kau sangkalkan. 01 Juni telah dinyatakan sebagai Hari Lahirnya Pancasila. Yah Pancasila, yang semenjak saat itu menjadi landasan berbangsa dan bernegara, tentunya dalam lingkup negara Indonesia. 


Tak usah berbelit-belit lagi. Sederhana saja, sebab ini bukan karya ilmiah yang mesti menuruti berbagai aturan-aturan kepenulisan. Ini lebih pada pemanfaatan media sosial yang entah mengapa terlalu menarik untuk dijadikan wadah untuk saling berbagi informasi, kegilaan dan sebagainya. 



Begitulah adanya kondisi bermasyarakat hari ini. Ketidakmampuan menahan diri dari berbagai godaan modernisasi telah menawan nilai-nilai luhur kita dalam sifat individual yang sangat kuat. Sifat cuek dan tak mahu tahu hari ini telah mengakar kuat. Sementara keterpurukan aktualisasi Pancasila dalam tindakan berbangsa dan bernegara pun semakin merosot jauh bak sumur tak berdasar. Etika juga moral kita selaku manusia modern hari ini mengalami degradasi yang sangat parah.


Manusia-manusia medsos (media sosial) seperti kita adalah orang-orang gila yang menganggap tindakannya terpuji dan terus menerus mengulanginya tanpa henti. Kita adalah orang-orang yang terbiasa mengabadikan kebaikan di mata manusia. 


Mengutip bait puisi D'Facto ; "Berpakaian sesama manusia, tapi telanjang dimata Tuhan". Jauh dari niat memberi contoh, kita malah terjebak pada persoalan mencari eksistensi semata. 


"Tangan kanan memberi, tangan kiri selfi". Yah, kalimat sentilan ini memang sangatlah teramat pantas bagi kita yang mengaku masih tetap utuh sebagai manusia. Ha ha ha, ini pun bagian koreksi bagi diri saya selaku penulis. Tapi begitulah budaya baru yang telah kita bangun. Entah lahir atas ideologi semacam apa, jelasnya tindakan kita hari ini sudah teramat jauh dari tindakan seorang Pancasilais.


Dari berbagai degradasi moral dalam bernegara yang terjadi hari ini, usaha apa pun nampaknya akan sia-sia jika itu bukan lahir dari kesadaran kita bersama. Namun itu bukan alasan untuk berdiam diri dalam keterpurukan. Kita harus menyadari bahwa sebelum lahirnya Pancasila, nilai-nilai luhur yang ada didalamnya telah lama menjadi identitas kemuliaan manusia sebagai makhluk yang memiliki akal pikir.


Sekali lagi, tulisan ini sebatas refleksi penulis atas diri sendiri dan untuk siapapun yang terjebak pada persoalan yang sama. 


Meski terlambat, SELAMAT HARI LAHIR PANCASILA.


#lestarikankewarasan #lestarikancinta