Oleh : Tri H. Sumani
Barangkali siapa pun akan bersepakat bahwa kemanusiaan adalah bagian dari sifat kodrati manusia, artinya telah melekat semenjak kita lahir. Meskipun tiada dapat dipungkiri bahwa beberapa pandangan para ahli menyatakan bahwa awal munculnya kemanusiaan berasal dari peradaban Yunani dan Romawi kuno yang kemudian meyakini bahwa suatu saat nanti akan lahir kemanusiaan universal.
Dalam perjalanan peradaban manusia, gerakan-gerakan kemanusiaan tiada pernah lepas sepanjang sejarah. Karena disetiap adanya penindasan dan berbagai macam kesenjangan yang tak lagi sesuai dengan keteraturan hidup manusia, gerakan kemanusiaan selalu saja muncul sebagai penyeimbang agar keteraturan tetap terjaga. Semakin banyak bencana juga tragedi kemanusiaan yang terjadi, maka semakin banyak pula gerakan-gerakan kemanusiaan yang bermunculan ke permukaan.
Pada kesejatiannya seperti apa yang telah saya nyatakan dalam paragraf pertama bahwa kemanusiaan adalah sesuatu yang bersifat kodrati dalam diri manusia, sehingganya setiap individu tidaklah dapat mengelak bahwa disetiap kali ia melihat ketertindasan, saat itu pula rasa kemanusiaannya selalu bergetar untuk berbuat sesuatu yang dapat bermanfaat bagi mereka yang menjadi objek ketertindasaan atau pun korban dalam sebuah bencana.
Namun dengan berbagai penjelasan di atas, kita tak bisa memandang remeh terkait kemanusiaan, walaupun ia bersifat kodrati namun acapkali kita menjadi sangatlah kaku dalam menanggapi berbagai persoalan yang menuntut keterpanggilan kita atas sesama manusia. Pada dasarnya gerakan kemanusiaan lahir dengan adanya pandangan bahwa semua manusia adalah sama. Seperti halnya gagasan besar yang dilahirkan oleh seorang Mahatma Gandhi yang secara tidak langsung menyatakan bahwa "Semua Manusia Bersaudara".
Ketidakpekaan terhadap suara-suara kemanusiaan sebenarnya muncul karena adanya ego kelompok ataupun individu dalam mencapai kepentingan tertentu sehingganya mewajarkan perbuatan yang melanggar hak-hak orang lain. Semisal sebelum muncul kemanusiaan unviersal, dahulu setiap kelompok suku ataupun kelompok yang lahir atas kesamaan Tanah juga Darah memandang bahwa kelompok merekalah yang paling mulia ataupun yang pantas disebut manusia dan kelompok diluar mereka dianggap liar dan terbelakang, sehingganya tak pantas disebut manusia. Nah paham-paham seperti inilah yang seharusnya dapat kita hindari karena secara perlahan akan memenjarai bahkan berpotensi membunuh rasa kemanusiaan kita.
Akhir kata tetaplah menjadi manusia yang tetap menjaga setiap nilai-nilai luhur untuk mencapai kebermanfaatan hidup atas sesama.
#lestarikankewarasan #lestarikancinta

Tidak ada komentar:
Posting Komentar