Senin, 02 Desember 2024

Cinta Tak Pernah Disengaja

 Aku tak pernah membaca setiap baris pertemuan kita. Bagiku, itu adalah hal yang paling mustahil kupikirkan. Kita, dua orang asing yang disibukkan dengan luka lama masing-masing. Mempersibuk diri agar tak tersandera kenangan. Berupaya menerima kenyataan, meski dikedalaman hati, ada sepi yang berontak.

Kau adalah sebidang senyum sederhana, ia tak menawan mataku begitu lama. Tapi diingatan, sosokmu berlalu-lalang tanpa peduli waktu. Bohong, jika aku hanya ingin sebatas mengenalmu. Setiap kali wajahmu mampir diberanda "medsosku", debar dadaku semakin tak tertahan. Ada kecamuk perasaan suka disana.

Puncaknya, di Minggu malam yang damai. Ku tumpahkan juga segalanya. Kau boleh tak percaya, tapi ini serius setengah mampus. Jika tak ku utarakan cintaku, niscaya esok aku akan musnah karenanya.

Tak perlu risau, mari berjalan tanpa takut. Serumit apapun pelayaranmu, badai sekalipun yang akan kau lalui, sertakan aku bersamamu. Entahlah, tapi penglihatanku berkata lain. Kau bukanlah perempuan yang hanya bermahkotakan bunga, lebih dari itu. Kau telah terbiasa berdarah-darah dalam diam. Jika detak jantung kita seirama, jadikan aku bagian dari perisaimu, dan mari berjalan bersama dalam cerita baru tanpa haru. 

Satu hal yang pasti, sejak detik ini, aku telah mencintaimu.

Kamis, 06 Juni 2024

Yang Tersisa Dari Perpisahan

Hampir saja aku mencantumkan kisah kita dalam keabadian, dalam serangkaian karya yang sepenuhnya tentang kamu. Sayang, patah lebih cepat dari yang kuharapkan. Hai, apa kabar? Kurang lebih tiga bulan berlalu semenjak terakhir kali kita bicara sebagai sepasang hati yang saling menguatkan. Memang setelahnya sempat beberapa kali berupaya bertukar kabar, tapi kebencian telah meraja, kau berubah layaknya penyihir agung yang mengutuk setiap upayaku memperbaiki makna perkenalan. Katamu, aku disandra ambigu tak berkesudahan, hal yang membuatmu merasa kian terabaikan hingga puncaknya amarahmu tak lagi terbendung, meledak-ledak dan ditutup dengan salam perpisahan.


Barangkali aku memang terlampau egois, membiarkanmu berjalan seorang diri dalam ketidakpastian cinta. Hmm, padahal setahun lagi kita akan sampai pada janji itu. Apa boleh dikata, pergimu perlahan kumaknai sebagai alasan bahwa ternyata semesta menginginkanku untuk berjalan lebih jauh lagi, memenuhi segala upaya yang kerap kau sebut sebagai cita-cita mulia sebagai ungkapan dari rasa banggamu terhadapku. 

Benar katamu, kita tak akan pernah seakrab dulu, menghabiskan waktu berjam-jam untuk mematahkan segala keraguan. Tiga tahun lebih bukanlah waktu yang singkat, dan kaupun tahu bahwa aku tak sebegitu bergairahnya untuk mengeja waktu. Bagiku, cepat atau lambat, kebersamaan hanya akan kuhargai jika ada kerikatan pikiran dan perasaan didalamnya. Tak ada tawar menawar soal itu.

Lewat catatan ini, aku hanya ingin mengutarakan pesan yang sempat tertahan. Setumpuk kesan atas perjalanan kita yang kini kutempatkan sebagai pelajaran agar lebih menghargai apa yang kumiliki saat ini, lebih memperhatikan orang-orang yang terlampau peduli terhadapku. 

Terima kasih, seperti katamu, akan tiba masanya kita saling jatuh cinta lagi, tapi tentu dengan orang yang berbeda, kau dengan lelaki terbaik, begitupun aku dengan perempuan yang entah siapa, yang pastinya bukan kamu.

#catatankolong